Mo Salah dan Para Petugas Pajak

oleh
Pemain terbaik versi PFA musim 2017-2018, Mohamed Salah. (foto: twitter.com/PFA)

Dua hari lalu (23/4), pemain Liverpool Mohamed Salah dinobatkan sebagai pemain terbaik oleh Professional Footballers’ Association (PFA) untuk musim 2017-2018. Penampilannya spektakuler, bisa dilihat dari jumlah gol yang fantastis, 41 gol dari 46 pertandingan.

Tak ada yang menampik kehebatan Mo Salah. Tetapi, kita pun memahami, bahwa semua itu tak lepas dari peran kerjasama team (teamwork). Bukan hanya kekompakan antar pemain, kejeniusan manager Jurgen Klopp, hingga dukungan klub dan para fansnya. Semua itu memiliki andil, sehingga Mo Salah bisa tampil berkilau.

Dengan kacamata teamwork inilah, kita pun bisa melihat bagaimana kecemerlangan Mo Salah akan setara dengan kemampuan para petugas pajak dalam menciptakan “gol-gol” yang menjadi tugasnya. Bila Liverpool diibaratkan dengan pemerintahan maka para petugas pajak adalah layaknya para Mo Salah. Liverpool berharap Mo Salah produktif, sebagaimana pemerintah mendorong para petugas pajak mencapai targetnya.

Namun sekali lagi harus diingatkan, keberhasilan Mo Salah adalah hasil teamwork, bukan aksi individual. Benar, sebagai pemain bola ia memiliki skill yang luar biasa. Tapi, tanpa dukungan team, Mo Salah sangat mungkin tidak berdaya di lapangan hijau. Demikian halnya dengan para petugas pajak kita.

Profesionalisme para petugas pajak dibangun dengan sungguh-sungguh. Komunikasi internal tentang pelayanan, misi dan visi pajak, hingga transformasi budaya kerja pun digulirkan jajaran aparat pajak. Bahkan di Jawa Barat, dipimpin langsung Yoyok Satiotomo Kakanwil DJP Jabar I, pun mencanangkan zone integritas, dimana para petugas pajak harus bersih, bebas dari korupsi.

Ptofesionalitas dan integritas para petugas pajak, cukupkah bagi kesebelasan pajak mencetak gol? Mencapai target yang ditetapkan pemerintah? Belum cukup. Sebagai team, ada kunci-kunci lain yang diperlukan agar para “Mo Salah” di jajaran pajak bisa beraksi gemilang.

Keberhasilan tim, menurut J Richard Hackman, tidak ditentukan oleh kepribadian, sikap atau gaya perilaku anggotanya. Pelopor studi Organizational Behavior ini, menyebut “kondisi-kondisi yang memungkinkan” (enabling conditions)-lah yang mendorong sebuah tim efektif dalam mencapai tujuannya.

Enabling conditions ini menurut Hackman ada tiga unsur, yaitu adanya arahan yang memikat (a complelling direction), struktur yang kuat (a strong structure), dan konteks yang mendukung (a supportive context). Dua hal pertama, sepenuhnya ada di internal. Dua hal ini pula, yang nampak sungguh-sungguh sedang dikerjakan oleh jajaran pajak dengan apa yang kita lihat sebagai “gelombang transformasi”.

Hal ketiga, dukungan faktor eksternal pun sebenarnya terus diupayakan. Networking terus dibangun oleh jajaran pajak kepada seluruh lapisan masyarakat, mulai dari birokrat hingga para pengusaha. Di Kanwil DJP Jabar I, Kakanwilnya terjun langsung membangun sinergi dengan berbagai institusi eksternal. Semua itu dalam upaya pengkondisian, agar tercipta supportive context.

Tanpa supportive context, bahkan Mo Salah pun akan serba salah di tengah lapangan. Tanpa dukungan dari berbagai pihak diluar dirjen pajak, para “Mo Salah” petugas pajak akan sangat kesulitan menciptakan gol, apalagi untuk memenangkan turnamen dan kompetisi… (dr)

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *